Liburan Akhir Tahun Bareng Honda Freed

Berhubung jatah cuti tahunan kami masih lumayan, saya dan istri memutuskan liburan ke dua kota kelahiran kami, Bandung dan Demak, lewat jalan darat. Kendaraan yang kami pakai kali ini adalah Honda Freed tipe S rakitan 2015. Varian terendah Freed ini menemani kami sejauh lebih kurang 1.600 kilometer, termasuk jalan-jalan local di seputaran Bandung dan Demak.

Apa saja yang akan kita bahas? Boleh dibilang semuanya. Mulai dari tampilan mobil ini di jalan, kepraktisan, kenyamanan, hingga performa dan efisiensi mesin.

Penampilan di Jalan

Sepanjang dari rumah ke Bandung dan putar-putar di kota kembang, mobil ini lumayan banyak temannya. Tentu populasinya tidak sebanyak mobil setengah juta umat macam Innova atau Rush, tapi rasanya lebih banyak dibanding Kia Carens. Kalau dengan Grand Livina? Sepertinya 11-12, hampir sama. Tidak heran sih, soalnya konsumen Freed dan Grand Livina menurut saya sebenarnya punya profile yang sama: kelas menengah kota yang merasa Innova terlalu mainstream atau kegedean.

Cerita berbeda muncul saat saya bawa mobil ini dari Bandung ke Demak via Cipularang-Cipali-pantura. Seingat saya selepas Cipali sampai masuk Pemalang saya hanya ketemu dua ekor Freed. Jadi sepertinya Freed memang mobil kota yang nggak menarik buat orang kampung. Apakah ini soal mindset transmisi (Freed hanya tersedia otomatis), merek (bukan Toyota), atau harga (Freed memang overprice di kelasnya)? Entahlah.

Karena populasinya nggak terlalu banyak, nyetir mobil ini ke luar kota memang terasa ‘eksklusif’. Tapi…ada tapinya lho.. Freed adalah mobil yang tidak berubah bentuk sejak diluncurkan tahun 2009 silam. Beberapa kali facelift dilakukan HPM hanya menyentuh seputaran gril, warna reflektor lampu utama, garnish krom di pintu belakang, dan AC double blower. Buat sebagian orang, mobil ini desainnya sudah jadul alias perlu penyegaran.

Kepraktisan

Dibandingkan dengan kompetitornya, Freed punya tingkat kepraktisan yang cukup memadai. Paling gampang lihat saja kabinnya yang punya tujuh cup holders, dan itu belum termasuk kantong di dua pintu depan yang masih bisa muat beberapa botol minuman. Karena desain dashboard yang rata (Honda menyebutnya open café), di bawah head unit ada space yang cocok untuk naruh gadget atau kacamata. Turun ke bawah terdapat tempat penyimpanan cukup lega lengkap dengan port listrik untuk nge-charge handphone. Laci di bagian kiri dashboard ukurannya standar tapi rasanya oke-oke saja.

Sayangnya, ukuran bagasi belakang Freed amat sangat minimalis. Dengan modal feeling alias perasaan, bagasi ini hampir sama atau bahkan sedikit lebih sempit dibanding Grand Livina. Alhasil, saya terpaksa menaruh koper ukuran sedang kami di bawah kursi penumpang depan yang untungnya memang tidak dipakai.

Kenyamanan

Satu hal yang membuat mobil ini begitu hebat di mata saya adalah kelegaan kabinnya. Dengan ukuran mobil yang standar saja untuk ukuran mid MPV, designer Honda sukses membuat ruang penumpang yang begitu lega tanpa membuat jok yang kelewat tipis seperti di adiknya. Captain seats untuk empat orang di baris pertama dan kedua pun OK punya. Empuk dan cukup menopang badan. Tapi memang desain ini membuat kapasitas penumpang Freed mentok di enam orang. Itupun baris ketiga hanya cocok untuk anak-anak (seperti halnya di Grand Livina dan Carens). Sepanjang perjalanan pulang pergi, baris ketiga ini memang daerah kekuasaan anak saya termasuk jadi tempat tidurnya.

Gimana bantingannya? Suspensi Freed terasa disetel moderat dalam arti tidak empuk banget tapi juga tidak membuat perut penumpang terkocok-kocok seperti di Mobilio. Masih dalam taraf wajar untuk sebuah mobil keluarga. Ditambah kondisi jalan tol dan pantura Jawa Tengah yang relatif mulus, tidak ada keluhan sama sekali.

Alhamdulillah Freed generasi terakhir ini juga sudah dilengkapi AC double blower, jadi tidak ada cerita kurang dingin buat penumpang belakang. Sangat membantu terutama saat kami terjebak kemacetan Lembang selama hampir 2 jam. Suhu kabin yang dingin membuat kepala tetep adem. 🙂

Barangkali satu kekurangan yang cukup terasa adalah kencangnya suara luar yang masuk ke dalam kabin, terutama saat kecepatan di atas 60 km/jam. Suara audio yang standar saja itu jadi cukup terganggu. Perlu pasang peredaman ekstra sepertinya.

kampung halaman

Fitur

Pintu geser elektrik ada di sisi kiri saja, karena ini tipe S, lumayan membantu mengurangi goresan-goresan kuku di balik handle pintu. Geser ke dashboard, tombol AC a la kompor gas sukses bikin pemandangan konsol tengah agak terganggu. Di atasnya, head unit aftermarket yang bentuknya njendhol itu pun sama sekali tidak menambah keindahan. Nggak keren tapi secara fungsi sebenarnya memadai.

Oh iya, di lingkar stir terdapat tombol-tombol untuk audio. Sangat membantu dan lebih safety.

Performa, handling dan efisiensi

Soal performa, saya nggak akan panjang lebar. Akselerasi mobil ini payah bin lemot. Mesti sabar-sabar ngurut gas. Hehe… Gimana handlingnya mas? Lumayan untuk mobil yang bentuknya kayak gitu. Body roll cukup terasa tapi nggak sampai level mengganggu. Feedback stir dari & ke roda depan gimana? Apakah khas Honda? Nggak. Standar, tidak ada yang istimewa.

Urusan konsumsi bahan bakar (pertamax), mesin 1,5 liter Freed rasanya bukan yang terbaik di kelasnya tapi masih bisa diterima. Dalam kota  dapat sekitar 1:9. Curiganya sih karena berat mobil ini yang memang berlebihan gara-gara pintu elektrik.

Gimana saat dibawa ke luar kota? Saya ukur dengan cara isi full di Demak sebelam balik Tangsel, set jarak perjalanan di MID, lalu isi full lagi di Bintaro, dapat 1:14,9. Not bad.

Kesimpulan

Freed cocok buat jalan luar kota….asal… barang bawaan nggak banyak-banyak banget. Lemot dan nggak murah sih, tapi dijamin nyaman dan lega.

 

This entry was posted in MOBIL and tagged , , . Bookmark the permalink.