Optimisme yang Salah Kaprah

Konon yang membedakan manusia dan binatang adalah akal atau nalar. Ketika berhadapan dengan bahaya, binatang sepenuhnya bergantung pada insting bertahan hidup. Seekor tupai yang ingin menyeberang jalan akan langsung menyeberang. Dia baru lari menjauh ketika sebuah truk hampir melindasnya.

Sedangkan manusia (dewasa) jauh lebih canggih dari itu. Saat seseorang akan menyeberang jalan, secara tidak sadar dia mengingat nasihat orang tua atau guru. Lihat kanan kiri, pastikan kondisi jalan aman, baru menyeberang. Cara manusia normal menghindari ancaman adalah melakukan evaluasi lingkungan sekitarnya dan mengurangi resiko yang bisa merugikannya.

Dengan pemahaman melalui contoh sederhana di atas, sepertinya dapat disimpulkan kalau pengendara di jalanan ibu kota sudah banyak yang abnormal. Nalar sudah jarang (atau bahkan tidak pernah?) dipakai ketika berkendara.

Yang penting cepat sampai, yang penting saya lebih dulu dari dia, yang penting saya menang. Peduli setan dengan orang yang kita potong jalannya. Terserah orang mau ngerem mendadak gara-gara kita belok tanpa ngasih lampu sein. Gimanapun cara saya berkendara, saya pasti akan selamat!

Tampaknya sebagian dari kita terlalu optimis dengan keselamatan di jalan.

 

This entry was posted in MOBIL, MOTOR. Bookmark the permalink.