Gampangnya Naik Darah di Jalanan Ibu Kota

Setiap hari saya melihat orang rebutan lajur jalan sampai pepet-pepetan. Membunyikan klakson tanpa jeda agar kendaraan di depannya segera jalan atau minggir sepertinya sudah jadi hal yang biasa.

Tidak jarang, laju mobil saya dipotong oleh pemotor yang zig zag. Sering pula saya saksikan pengendara mobil tidak mau antri untuk sekedar bayar tol. Mereka lebih suka membuat jalur sendiri untuk kemudian memotong jalur antrian.

Barangkali ada benarnya apa yang dikatakan bos saya, seorang warganegara Amerika Serikat, tentang orang Indonesia. “Kalian orang Indonesia sangat sabar dan nrimo dalam banyak hal, kecuali saat kalian di jalanan. Orang Indonesia sangat kompetitif dan agresif,” katanya. Yup! Di Jakarta ini mudah sekali untuk jadi pengendara yang agresif. Istilah agresif di sini merujuk pada perilaku berkendara yang meningkatkan risiko kecelakaan. Contohnya ya hal-hal yang saya sebutkan di pembukaan tulisan ini.

Seperti halnya penyakit flu, perilaku ini sangat mudah menular. Tekanan hidup yang semakin meningkat seperti beban pekerjaan atau masalah lainnya membuat orang jadi mudah terpancing emosinya. Jujur, saya pun sering ikut terpancing. Misalnya ketika ada mobil yang main potong antrian bayar tol, sering saya sengaja pepet mobil itu agar tidak dapat masuk di depan saya. Dalam pikiran saya: Enak aja…Antri bos! Situ ga pernah diajarin antri ya?

Pernah pula saya suatu malam melaju santai di lajur tengah (tol 3 lajur) dengan kecepatan 80 km/jam. Tiba-tiba di belakang ada mobil yang nempel dan nge-dim pakai lampu jauh terus menerus. Saya sengaja beri dia ruang untuk nyalip, tapi langsung saya tempel dan kasih dim terus terusan. Biar dia ngerasain apa yang saya rasakan beberapa saat sebelumnya.

Sekian lama ketularan perilaku seperti itu, saya capek juga. Demi apa coba? Cepet sampe rumah? Paling selisih 5-10 menit. Belum kalau senggolan sama kendaraan lain trus pake acara berantem. Dijamin bakal lebih lama lagi.

Belum lama ini saya nonton Brain Games di National Geographic Channel tentang perilaku agresif. Dari beberapa percobaan yang melibatkan sukarelawan, rupanya perilaku agresif memang menular. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana mengatasinya? Rupanya jawabannya sangat sederhana. Tahan diri, jangan bereaksi langsung terhadap agresivitas yang kita dapat. Biarkan otak bekerja dan mencerna situasi. Beri stimulus positif seperti senyuman, sapaan, bahasa tubuh yang bersahabat, dan sebagainya.

Dua minggu terakhir saya coba tips dari Brain Games, dan alhamdulillah sejauh ini hasilnya lumayan. Dari sisi waktu tempuh ternyata tidak jauh berbeda. Dan yang lebih penting, saya bisa berkendara dengan lebih bahagia.

This entry was posted in MOBIL, MOTOR. Bookmark the permalink.