Benarkah mobil dan motor listrik lebih ramah lingkungan?

Zero motorcycle

Menarik untuk mengikuti masuknya motor dan mobil listrik di Indonesia. GARANSINDO cukup agresif memperkenalkan Zero motorcycle di berbagai kesempatan, termasuk hajatan Tumplek Blek akhir pekan lalu. Motor listrik ini diposisikan untuk menjadi alternatif bagi bikers berkantong tebal yang ingin tampil beda. Menurut saya sih bisa saja. Tapi mungkin motor yang dihargai 200-300 jutaan ini akan jadi koleksi kedua atau ketiga. Something nice to have.

Zero-Electric-Motorcycle

Di roda empat, Tesla pun baru saja membuka bisnisnya yang berlokasi di kawasan Jakarta Selatan awal tahun ini. Seperti yang kita tahu, Tesla adalah salah satu pelopor mobil listrik dunia dan kini menjadi salah satu yang terbesar di segmen tersebut. Untuk memboyong model S di Indonesia kita harus merogoh kocek agak dalam sekitar 2 milyar. Itupun masih harga off the road.

tesla-model-s

Kesimpulannya: motor dan mobil listrik itu mahal. Kenapa? Tidak seperti negara-negara maju, negara kita tidak mengenal insentif pajak untuk mobil-mobil yang dianggap ramah lingkungan.

Pertanyaan besarnya adalah: apakah kendaraan jenis ini memang ramah lingkungan?

Sampai saat ini saya belum mendengar GARANSINDO ataupun Tesla Indonesia mempromosikan produknya sebagai kendaraan ramah lingkungan. Tapi di beberapa ulasan media otomotif dan blogger ternama, muncul anggapan kalau kendaraan listrik adalah solusi atas problem lingkungan karena emisi gas buangnya nol.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tampaknya tidak sesederhana soal asap yang keluar dari knalpot. Setelah saya cari berbagai referensi online, rupanya indikator yang lazim digunakan untuk menentukan tingkat ‘keramahan’ suatu produk terhadap lingkungan adalah jejak karbon (carbon footprint). Secara sederhana jejak karbon dapat diartikan sebagai jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pribadi atau kelompok dalam melakukan kegiatannya per periode tertentu.

Dengan definisi ini, mudah-mudahan saya benar, kita perlu menghitung jejak karbon dari semua parts yang ada di kendaraan listrik. Untuk membuat sebuah Tesla Model S, misalnya, dibutuhkan plat baja, baterai, ban, dan sebagainya. Masing-masing bagian punya jejak karbon sendiri-sendiri yang kemudian dijumlahkan. Website seeking alpha secara mengejutkan menyampaikan temuan bahwa Model S sejatinya punya jejak karbon yang lebih tinggi dari sebuah big SUV. Nah loh!

footprint-cars

Kalau begini sih mending kita sekolahin kaki kanan kita saja. Biar dia lebih bijak dan hemat bensin. Hehe.. Setuju kan?

This entry was posted in MOBIL, MOTOR and tagged . Bookmark the permalink.